Mataram, Selasa, 25 November 2025 — Gelaran The 4th International Conference on Islamic Finance, Business and Banking (ICFBB) Fakultas Ekonomi dan BIsnis Islam Universitas Islam Negeri Mataram Tahun 2025 resmi dibuka pada Selasa, 25 November 2025, bertempat di Hotel Astoria Mataram. Konferensi internasional yang mengusung tema besar “Towards a Sustainable Future: Green Economy and Digitalization in Islamic Finance, Business and Halal Tourism” ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran keuangan syariah, bisnis digital, dan pariwisata halal dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pembukaan konferensi berlangsung khidmat dan dihadiri oleh berbagai tokoh strategis, di antaranya Gubernur Nusa Tenggara Barat yang diwakili oleh Bapak Ahsanul Khalik, Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi NTB Rudi Sulistyo, Pewakilan Bank Indonesia NTB Bapak Riza Munandar selaku Kasi UMKM Bank Indonesia, Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag., Kepala Biro AUPKK Bapak Arya Hukmi, M.M., Kepala Biro AAKK Bapak Dr. H. Deni Priansyah, S.Ag., M.Pd.I., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Mataram Prof. Dr. Baiq El Badriati, M.E.I., beserta jajaran dekanat, para Ketua dan Sekretaris Program Studi Ekonomi Syariah, Perbankan Syariah, Pariwisata Syariah, dan Kewirausahaan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh para dosen, mahasiswa, serta 40 presenter offline dan 20 presenter secara online yang berasal dari berbagai perguruan tinggi nasional dan internasional, dengan total peserta mencapai 150 orang.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh stakeholder—pemerintah daerah, OJK, industri, akademisi nasional maupun internasional, serta seluruh tamu dan peserta—yang terus memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan The 4th ICFBB FEBI UIN Mataram. Dalam kesempatan ini, Bapak Prof. Masnun menekankan bahwa pembangunan ekonomi yang ideal harus berorientasi pada kesejahteraan manusia dan sosial sebagai prioritas utama. Hal ini sejalan dengan fundamental of economic dalam perspektif Islam yang menitikberatkan pada keadilan sosial (social justice) dan kemaslahatan publik (public welfare), serta berlandaskan nilai rahmatan lil ‘alamin.

Rektor UIN Mataram menegaskan bahwa konferensi ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah, baik Presiden maupun kementerian terkait, khususnya dalam mengakselerasi digital sustainability. Transformasi digital, menurut beliau, harus berjalan beriringan dengan pelestarian prinsip dasar ekonomi syariah. Mengutip kaidah fikih “al-ashlu fil mu‘āmalāt al-ibāhah”—bahwa hukum asal muamalah adalah boleh—Rektor menjelaskan bahwa inovasi dalam transaksi digital, seperti fintech syariah dan platform digital UMKM, memiliki landasan kuat selama tetap mengikuti prinsip-prinsip syariah. Beliau menegaskan bahwa FEBI UIN Mataram memiliki komitmen besar terhadap pengembangan UMKM berbasis digital, sesuai arahan kementerian hingga ke Dirjen terkait agar perguruan tinggi mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat luas. Beliau berharap konferensi ini tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga menjadi energi kolektif untuk mewujudkan ekonomi syariah, green economy, dan digitalisasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.

Selanjutnya, Dalam sambutannya, Dekan FEBI, Prof. Dr. Baiq EL Badriati menekankan bahwa penggabungan konsep ekonomi biru (blue economy), ekonomi hijau (green economy), serta transformasi digital merupakan pendekatan yang harus diimplementasikan pada era modern. Menurut beliau, dunia bisnis dan ekonomi Islam tidak dapat lagi beroperasi dengan pola lama; inovasi dan keberlanjutan adalah kunci menghadapi tantangan global. Prof. Dr. Baiq EL Badriati juga memaparkan bahwa antusiasme peserta ICIFBB tahun ini sangat tinggi. Total pendaftar mencapai 100 orang, dan setelah proses kurasi akademik, 60 orang dinyatakan lolos sebagai presenter. Dari jumlah tersebut, 40 orang mempresentasikan secara offline, sementara 20 orang lainnya berpartisipasi secara online dari berbagai wilayah nasional maupun internasional.

“Kegiatan ini tidak akan berjalan sukses tanpa dukungan semua pihak. Terima kasih kepada OJK dan seluruh stakeholder NTB atas kontribusinya. Semoga sinergi ini terus berlanjut untuk pengembangan ekonomi syariah, digitalisasi, dan keberlanjutan di masa depan,” Ungkap Prof. Baiq EL Badriati.

Dalam sambutan mewakili Gubernur NTB, Bapak Ahsanul Khalik, menjelaskan bagaimana NTB memandang dinamika ekonomi dunia yang sedang mengalami perubahan cepat. Ekonomi global, nasional, dan daerah menuntut inovasi strategis dan adaptasi yang berkelanjutan. Bapak Ahsanul Khalik menekankan rasa syukur dapat hadir dan berkumpul bersama generasi muda—mahasiswa, peneliti, dan akademisi yang dianggap sebagai anak-anak zaman yang siap menjawab tantangan peradaban modern.

“Generasi muda tidak boleh hanya berhenti pada teori dan riset,” ujarnya. “Tetapi harus mampu menghadirkan jawaban dan harapan baru bagi dunia yang sedang mencari arah.”, ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan beberapa rekomendasi strategis untuk memperkuat integrasi ekonomi syariah, digitalisasi, dan green economy:

  1. Membangun kerangka pembiayaan syariah hijau yang mendukung proyek berkelanjutan.
  2. Mendorong transformasi digital halal tourism, sebagai sektor unggulan di NTB.
  3. Membentuk konsorsium riset antara perguruan tinggi, industri, dan lembaga global.
  4. Memperkuat skema investasi hijau serta insentif fiskal untuk UMKM agar lebih berdaya saing.
  5. Menjadikan NTB sebagai laboratorium kebijakan internasional untuk integrasi keuangan Islam, digitalisasi, dan ekonomi hijau.

Rekomendasi ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan bagi akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan dalam menyusun strategi pembangunan yang adaptif dan berkelanjutan.

Selanjutnya, Kepala OJK NTB, Rudi Sulistyo, menekankan bahwa OJK telah menyusun dan mengimplementasikan berbagai kebijakan strategis terkait Sustainable Finance sebagai respon terhadap tantangan ekonomi global dan komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan. OJK memandang bahwa keuangan berkelanjutan adalah bukan hanya mandat regulasi, tetapi sebuah keharusan dalam memastikan stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan, inklusif, dan berkeadilan. Sebagai provinsi yang sedang menguatkan ekosistem keuangan syariah, NTB memiliki modal penting untuk mengintegrasikan nilai-nilai keadilan, transparansi, dan keberlanjutan dalam keuangan syariah.
Bapak Rudi Sulistyo menyampaikan bahwa instrumen keuangan syariah seperti mudharabah, musyarakah, dan sukuk hijau selaras dengan prinsip keuangan berkelanjutan yang mengutamakan kemaslahatan dan menghindari aktivitas yang merusak lingkungan. Beliau menegaskan bahwa integrasi konsep syariah dan sustainable finance mampu menjadi model ekonomi masa depan yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga kesehatan lingkungan dan kesejahteraan sosial.

Bapak Rudi Sulistyo memberikan apresiasi tinggi kepada UIN Mataram, khususnya FEBI, yang telah menyelenggarakan konferensi internasional ini secara konsisten sebagai wadah riset, diskusi, dan pengembangan kebijakan.
Beliau menilai bahwa agenda The 4th ICFBB FEBI UIN Mataram berperan strategis sebagai jembatan antara akademisi, regulator, dan industri dalam merumuskan arah pembangunan ekonomi Islam dan keuangan berkelanjutan di masa depan.

“OJK NTB berkomitmen untuk terus bersinergi dengan perguruan tinggi, termasuk UIN Mataram, dalam mendorong literasi, inklusi keuangan, dan penguatan ekosistem keuangan berkelanjutan,” ujarnya.

Selanjutnya Bapak Riza Munandar, menegaskan bahwa ekonomi dan keuangan syariah kini menjadi salah satu penggerak penting perekonomian nasional. Pertumbuhan pesat industri halal, meningkatnya preferensi masyarakat terhadap produk keuangan syariah, serta penguatan ekosistem UMKM berbasis syariah menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat ekonomi syariah global. Beliau menyampaikan apresiasi kepada UIN Mataram dan FEBI yang telah menyelenggarakan ICIFBB sebagai forum akademik yang penting bagi pengembangan ilmu dan kebijakan. Bank Indonesia, menurutnya, siap terus bersinergi dengan perguruan tinggi dalam riset, literasi keuangan syariah, dan pemberdayaan UMKM.

“Semoga dengan agenda The 4th ICFBB FEBI UIN Mataram, menjadi ruang lahirnya gagasan besar dan rekomendasi yang aplikatif bagi pengembangan ekonomi syariah,” ungkapnya.