Mataram, 16 Oktober 2025 — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo melaksanakan kegiatan studi banding ke FEBI UIN Mataram, Kamis (16/10). Kegiatan ini bertujuan memperkuat tata kelola kelembagaan, pengelolaan akademik, serta pengembangan program unggulan antar dua fakultas ekonomi Islam di bawah naungan Kementerian Agama RI. Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FEBI Prof. Dr. Baiq El Badriati, M.E.I., beserta jajaran Dekanat dan Kaprodi/Sekprodi Ekonomi Syariah, Perbankan Syariah, Pariwisata Syariah dan Kewirausahaan.
Rombongan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, yang dipimpin oleh jajaran dekanat, ketua program studi, dan Gugus Kendali Mutu (GKM) FEBI UIN Ponorogo tersebut tiba di Kampus II UIN Mataram pada pagi hari. Kunjungan diawali dengan Forum Group Discussion (FGD) antara kedua fakultas, yang membahas strategi peningkatan mutu akademik, inovasi pembelajaran, serta kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat di bidang ekonomi dan bisnis Islam.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Baiq El Badriati, M.E.I., menegaskan komitmen fakultas untuk terus memperkuat mutu akademik melalui peningkatan akreditasi program studi dan pemantapan fasilitas pembelajaran modern.
“Alhamdulillah, dari empat program studi yang ada, Prodi Pariwisata Syariah saat ini menjadi satu-satunya prodi di Indonesia dengan predikat Unggul dari BAN-PT. Sementara Prodi Perbankan Syariah juga telah meraih predikat Unggul, Prodi Ekonomi Syariah memperoleh nilai Baik Sekali, dan Prodi Kewirausahaan akan segera mengikuti proses akreditasi pada tahun depan,†ujar Dekan FEBI.
Lebih lanjut, pihak fakultas juga menyiapkan infrastruktur pembelajaran yang mendukung kegiatan akademik dan kolaborasi, termasuk untuk program dosen tamu dan pembelajaran lintas kampus.
“Kami telah menyiapkan Smart Class Room yang bisa digunakan untuk kegiatan kuliah tamu dan kelas kolaboratif antarfakultas,†jelasnya.
Prof. Dr. Baiq El Badriati, M.E.I., juga memperkenalkan Desa Binaan Bilebante di Lombok Tengah sebagai laboratorium sosial dan ekonomi bagi mahasiswa serta dosen. Desa tersebut menjadi pusat pemberdayaan masyarakat berbasis UMKM syariah, dengan pendampingan langsung oleh tim FEBI.
“Mahasiswa dan dosen bisa melakukan penelitian, pengabdian, dan pendampingan ekonomi masyarakat di sana. Sudah ada tim yang mengawal secara berkelanjutan,†tambahnya.

Dalam sambutannya, Dr. Luhur Prasettiyo, selaku Wakil Dekan I FEBI UIN Ponorogo, menyebut kunjungan ke FEBI UIN Mataram sebagai pengalaman berharga untuk memperluas wawasan pengelolaan akademik dan pengembangan laboratorium terintegrasi.
“Bisa berkesempatan hadir di FEBI UIN Mataram adalah hal luar biasa. Kami datang untuk menimba hal-hal yang bisa diadopsi dan dikembangkan di FEBI UIN Ponorogo,†ujarnya.
Beliau juga memperkenalkan struktur program studi di FEBI UIN Ponorogo yang saat ini terus berkembang. Tercatat, fakultas tersebut memiliki lima program studi aktif, yaitu Ekonomi Syariah, Perbankan Syariah, Manajemen Zakat dan Wakaf, Bisnis Syariah, serta Akuntansi Syariah. Dua di antaranya — Akuntansi Syariah dan Manajemen Bisnis Syariah — merupakan jurusan baru yang mulai menerima mahasiswa angkatan pertama pada tahun 2024, dan kini memasuki angkatan kedua.
Dalam upaya memperkuat pembelajaran berbasis praktik, FEBI UIN Ponorogo juga telah mengembangkan berbagai laboratorium tematik. Salah satunya adalah Laboratorium Mini Bank, yang menggunakan uang asli sebagai media simulasi.
“Mahasiswa diwajibkan menabung sebesar Rp200.000 sebagai modal latihan transaksi. Dana tersebut kemudian digunakan dalam praktik kewirausahaan mandiri, dan sejauh ini tidak ada kekhawatiran terkait kredit macet,†jelasnya.
Selain itu, fakultas juga memiliki Galeri Investasi, Laboratorium Kewirausahaan yang terintegrasi dengan FEBI Mart — toko kampus yang dikelola mahasiswa dan diisi dengan produk mereka sendiri — serta Laboratorium Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF).

Faruq Ahmad Futaqi, M.E., dalam paparannya, menjelaskan bahwa pengelolaan Mini Bank FEBI UIN Ponorogo berfungsi tidak hanya sebagai sarana simulasi akademik, tetapi juga sebagai laboratorium keuangan syariah nyata yang melibatkan dana riil dari mahasiswa.
“Untuk pengelolaan mini bank, ada surat edaran dari dekan yang mewajibkan setiap mahasiswa menabung sebesar Rp200.000. Dana ini menjadi modal bagi mahasiswa dalam praktik kewirausahaan dan pembiayaan berbasis syariah,†ujarnya.
Melalui skema tersebut, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung dalam menjalankan akad-akad syariah seperti murabahah dan mudharabah untuk usaha kecil di pasar. Model ini memungkinkan mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembiayaan dan pengelolaan risiko secara profesional.Lab ZISWAF ini berfungsi mengelola dana zakat dari dosen dan karyawan, serta secara rutin menggalang donasi dari mahasiswa melalui program relawan ZISWAF.
“Teman-teman mahasiswa perbankan langsung praktik dari tabungan mereka sendiri. Setoran Rp200.000 itu masuk ke mini bank dan bisa diambil kembali setelah mereka lulus dalam empat tahun,†jelasnya.
Mini Bank FEBI UIN Ponorogo juga telah dilengkapi dengan sistem aplikasi berbasis mobile banking hasil kerja sama dengan Sidogiri, yang membuat seluruh tabungan mahasiswa tercatat secara by name dan tersistem digital.
“Keuntungan dari operasional mini bank tidak diambil oleh fakultas, tetapi dibagikan sebagai bagi hasil kepada mahasiswa penabung. Jadi ketika mereka lulus, mereka bisa menikmati hasil nyata dari simpanan dan praktik pembiayaan yang dijalankan selama studi,†tambahnya.
Menariknya, sistem ini juga menerapkan mekanisme mitigasi kredit macet yang mendidik mahasiswa tentang pentingnya tanggung jawab finansial.
“Mahasiswa yang memiliki pembiayaan belum lunas tidak dapat naik semester sebelum menyelesaikan kewajiban pelunasan ke mini bank. Ini bagian dari pembelajaran integritas keuangan dan etika bisnis syariah,†tegasnya.
Hingga saat ini, Mini Bank FEBI UIN Ponorogo telah memiliki aset senilai lebih dari Rp1 miliar dalam bentuk dana riil yang dikelola secara transparan dan produktif. Sistem ini menjadi bukti keberhasilan pendekatan “learning by doing†dalam mengajarkan praktik ekonomi syariah berbasis pengalaman nyata di lingkungan kampus.