Bali, 16 November 2025. Fakultas Pariwisata Universitas Udayana menjadi tuan rumah puncak kegiatan International Student Culture Exchange on Tourism 2025, sebuah program kolaborasi akademik antara Prodi Pariwisata Syariah FEBI UIN Mataram dan Himpunan Mahasiswa Industri Perjalanan Wisata Universitas Udayana. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–13.00 WITA ini menjadi penutup rangkaian pertukaran budaya dan kajian pariwisata yang telah dilaksanakan selama tiga hari di berbagai destinasi wisata unggulan di Bali.
Hari ketiga kegiatan difokuskan pada agenda akademik dan pertukaran budaya. Dimulai dengan sesi pembukaan, sambutan pimpinan dari kedua institusi, diskusi akademik, presentasi hasil studi lapangan, sesi tanya jawab bersama narasumber, hingga penampilan seni budaya dari mahasiswa UIN Mataram. Puncak acara ditutup secara resmi oleh Fakultas Pariwisata Universitas Udayana.
Kaprodi Pariwisata Syariah FEBI UIN Mataram, Wahyu Khalik, M.Par., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas terselenggaranya rangkaian kegiatan pertukaran budaya dan akademik yang mempertemukan mahasiswa dari dua daerah pariwisata unggulan di Indonesia: Lombok dan Bali. Beliau menilai bahwa kegiatan ini telah memberikan ruang belajar yang luas untuk memahami keberagaman, praktik pengelolaan destinasi, serta nilai budaya yang menjadi fondasi penting dalam pembangunan pariwisata nasional.

“Kegiatan ini bukan hanya rangkaian studi lapangan, tetapi ruang belajar yang menghadirkan pemahaman baru tentang pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada nilai budaya. Mahasiswa perlu melihat pariwisata secara holistik, tidak hanya dari sisi destinasi, tetapi juga dari sudut pandang masyarakat, adat, dan keberlanjutan,†ujarnya.bersama, program pertukaran mahasiswa, hingga publikasi ilmiah bersama para akademisi Universitas Udayana.
Perwakilan dosen Fakultas Pariwisata Universitas Udayana menyampaikan apresiasi atas inisiatif UIN Mataram dalam menciptakan ruang kolaboratif yang mempertemukan dua karakter pariwisata berbeda—Bali dan Lombok.
“Program seperti ini sangat penting dalam membangun pemahaman lintas daerah. Bali dan Lombok memiliki keunikan masing-masing, sehingga dialog akademik yang terbangun hari ini sangat bermanfaat dalam melihat praktik terbaik dan tantangan pariwisata berkelanjutan,†ungkapnya.

Dalam sambutannya, Tegar Harjuan menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan selama tiga hari penuh. Ia menegaskan bahwa program pertukaran ini bukan sekadar agenda akademik, tetapi juga momen penting untuk membangun jejaring keilmuan, memperkaya pengalaman, dan memperkuat kolaborasi antara mahasiswa Bali dan Lombok.
“Kami berharap melalui kegiatan ini, mahasiswa mampu melihat pariwisata tidak hanya dari sudut pandang destinasi, tetapi juga dari nilai budaya, keberlanjutan, dan keterlibatan masyarakat,†ujar Tegar.
Sesi inti kegiatan diisi dengan diskusi akademik seputar tema strategis dalam pengembangan pariwisata, meliputi:
- Community Based Tourism (CBT)
- Pelestarian adat dan pariwisata budaya
- Tren digitalisasi promosi pariwisata
- Perkembangan pariwisata syariah di Indonesia
- Peluang riset dan kolaborasi antar-universitas

Mahasiswa dari kedua kampus mempresentasikan hasil studi lapangan yang dilakukan di Desa Adat Penglipuran, Pura Ulun Danu Batur, Pantai Pandawa, dan Pura Luhur Tanah Lot. Mereka memaparkan analisis pengelolaan destinasi, keberlanjutan lingkungan, interaksi masyarakat, serta tantangan pemasaran digital dalam konteks pariwisata Bali.
Agenda selanjutnya pentas budaya, antusiasme tinggi terlihat sejak awal penampilan, menjadikan sesi ini sebagai salah satu momen paling berkesan dari kegiatan pertukaran budaya tersebut. Penampilan pertama adalah Pentas Presean, tradisi bela diri khas suku Sasak yang memiliki nilai historis dan filosofi mendalam. Para mahasiswa menampilkan atraksi tersebut dengan penuh semangat, menggambarkan keberanian, sportivitas, dan nilai persaudaraan yang terkandung dalam tradisi ini.

Selain Presean, mahasiswa juga menampilkan tarian tradisional Lombok yang kaya akan unsur estetika dan nilai-nilai budaya. Tarian ini menjadi upaya nyata dalam memperkenalkan identitas lokal Lombok kepada mahasiswa Universitas Udayana, yang selama ini dikenal dengan keunikan tradisi Bali.
Gerakan anggun para penari, perpaduan kostum khas, serta alunan musik tradisional menjadikan penampilan ini sebagai simbol harmonisasi budaya Lombok-Bali. Penonton memberikan tepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasi. Pentas budaya ini juga memperlihatkan bahwa mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan untuk melestarikan nilai-nilai budaya daerah masing-masing.
Civitas akademika Fakultas Pariwisata Universitas Udayana memberikan apresiasi tinggi atas penampilan mahasiswa UIN Mataram. Mereka menilai bahwa pentas budaya ini menjadi pelengkap penting dalam program pertukaran yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pemahaman lintas budaya.
“Penampilan seni budaya ini menjadi warna tersendiri dalam kegiatan kami. Ini adalah bukti bahwa pariwisata dan budaya tidak bisa dipisahkan,†ungkap salah satu perwakilan dosen Fakultas Pariwisata Universitas Udayana.