Bali, 14 November 2025. Program Studi Pariwisata Syariah UIN Mataram resmi memulai rangkaian kegiatan International Student Culture on Tourism dengan tema “Two Island, One Exchange: Bali Tourism and Lombok Tourism.†Hari pertama kegiatan diisi dengan live study berbasis Community Based Tourism (CBT) di Desa Wisata Adat Penglipuran, salah satu destinasi budaya terbaik di Bali dan dikenal secara internasional atas komitmennya terhadap pelestarian adat, kearifan lokal, dan pengelolaan lingkungan.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ketua Program Studi Pariwisata Syariah, Wahyu Khalik, M.Par., didampingi Sekretaris Program Studi Abdul Hadi Sukmana, M.E., serta diikuti oleh 20 mahasiswa Prodi Pariwisata Syariah. Tujuan utama live study ini adalah memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa terkait pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, pelestarian adat, serta strategi pengelolaan destinasi yang berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Wahyu Khalik, M.Par., menyampaikan bahwa Penglipuran merupakan model nyata bagaimana masyarakat lokal memegang peran sentral dalam mengembangkan pariwisata yang berbasis pada nilai budaya dan keberlanjutan.
> “Melalui kunjungan ini, mahasiswa dapat melihat langsung praktik Community Based Tourism yang dikelola dengan baik oleh masyarakat Penglipuran. Ini menjadi pembelajaran penting bagaimana kearifan lokal dapat menjadi kekuatan dalam membangun destinasi yang berkualitas dan berdaya saing,†ujarnya.
Selama eksplorasi, mahasiswa mempelajari berbagai aspek pengembangan desa wisata, termasuk:
- Struktur tata ruang adat Penglipuran yang mempertahankan konsep tri mandala.
- Pengelolaan lingkungan berbasis komunitas yang menghasilkan penghargaan internasional sebagai desa terbersih.
- Keterlibatan aktif masyarakat dalam penyediaan atraksi, fasilitas, dan layanan wisata.
- Penerapan nilai dan etika adat yang tetap dijaga meski desa menjadi objek wisata global.
Abdul Hadi Sukmana, M.E., menambahkan bahwa pengalaman lapangan seperti ini membekali mahasiswa dengan wawasan praktis yang melengkapi teori yang dipelajari di kelas.
“Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana desa wisata ini menjaga keseimbangan antara pariwisata, budaya, dan lingkungan. Ini akan sangat bermanfaat sebagai calon praktisi wisata yang berbasis nilai syariah dan keberlanjutan,†ungkapnya.
Kegiatan hari pertama ditutup dengan sesi diskusi reflektif antara mahasiswa dan masyarakat setempat mengenai tantangan dan strategi pengembangan desa wisata di era global. Seluruh rangkaian aktivitas berlangsung lancar dan penuh antusiasme dari peserta.
Program International Student Culture on Tourism ini akan berlanjut dengan berbagai aktivitas akademik dan budaya yang menjembatani pemahaman pariwisata antara dua pulau: Bali dan Lombok, sebagai upaya memperkuat kompetensi mahasiswa dalam menghadapi dinamika industri pariwisata halal dan berkelanjutan.
Tegar Herjuan, mahasiswa prodi Pariwisata Syariah selaku Ketua Pelaksana kegiatan ini, menyatakan:
“Alhamdulillah, kegiatan International Student Culture on Tourism tahun ini dapat terlaksana dengan lancar dan penuh antusiasme. Sebagai ketua pelaksana, saya merasa bangga karena mahasiswa Prodi Pariwisata Syariah FEBI UIN Mataram dapat berkesempatan untuk belajar langsung mengenai konsep community based tourism di Desa Wisata Penglipuran, salah satu destinasi adat terbaik di Indonesia”. Melalui kunjungan dan live study ini, peserta kegiatan tidak hanya melihat bagaimana masyarakat mampu menjaga kearifan lokal dan kelestarian lingkungan, tetapi juga memahami bagaimana nilai-nilai budaya, adat, dan keberlanjutan dapat diintegrasikan dalam praktik pariwisata yang berdaya saing. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami sebagai calon praktisi dan akademisi di bidang pariwisata syariah.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Kaprodi Pariwisata Syariah, Bapak Wahyu Khalik, M.Par., yang telah memimpin langsung kegiatan ini, serta seluruh jajaran dosen dan mahasiswa yang terlibat. Semoga kegiatan ini semakin memperluas wawasan internasional mahasiswa dan memperkuat komitmen kita dalam mengembangkan pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis nilai-nilai syariah.â€, ucap Tegar.
Selanjutnya, tanggapan dari salah satu Pengelola Desa Wisata Penglipuran Bali, “Kami sangat mengapresiasi kehadiran mahasiswa Prodi Pariwisata Syariah FEBI UIN Mataram dalam kegiatan International Student Culture on Tourism ini. Bagi kami, kunjungan seperti ini sangat penting karena memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk memahami bahwa pariwisata tidak hanya soal destinasi, tetapi terutama tentang bagaimana budaya dan lingkungan tetap terjaga, Kami berharap mahasiswa dapat pulang membawa pemahaman baru tentang bagaimana budaya dapat menjadi daya tarik utama tanpa harus mengorbankan keberlanjutan. Semoga apa yang dipelajari di Penglipuran dapat menjadi inspirasi dalam mengembangkan pariwisata berbasis nilai, yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga melestarikan identitas dan menjaga harmoni dengan alam”.
Tim Humas FEBI UIN Mataram.